Komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. Menurut John R Wenburg dan William W Wilmot ( Mulyana 2007:76), komunikasi adalah usaha untuk memperoleh makna. Memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang dapat terjadi, akibat yang akan terjadi bahkan mengapa itu terjadi. Komunikasi juga merupakan bagian dari budaya. Budaya adalah tatanan pengetahuan,pengalaman,kepercayaan,nilai,sikap,makna,hirarki,agama,waktu,peranan,hubungan, alam semesta,objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok ( Rakhmat 2005:18 ). Budaya berhubungan dengan cara manusia hidup. Bahasa, persahabatan, cara kebiasaan makan, cara berbicara, praktik komunikasi dan sebagainya. Setiap manusia memiliki budaya yang berbeda, tergantung darimana ia berasal. Budaya juga dapat dibina dari kecil melalui keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya, misalnya orang Sumatra yang merantau ke Pulau Jawa harus memperhatikan cara makan mereka dan harus dapat beradaptasi karena masyarakat Jawa tidak terbiasa makan dengan kaki diangkat satu ke atas kursi dan makan sambil berdecap atau mengeluarkan bunyi, hal tersebut dianggap tidak sopan bagi masyarakat Jawa. Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa atau topik dan makna apa yang disampaikan. Kemiripan budaya dalam persepsi memungkinkan pemberian makna yang mirip terhadap suatu objek atau peristiwa. Contoh sederhana adalah orang Papua dan orang Jawa mempunyai budaya sama yakni jika memasuki rumah orang pasti tidak langsung masuk ke rumah tersebut, tetapi mengetuk pintu dahulu kemudian memanggil nama pemilik rumah, kemudian contoh lain orang-orang Barat menjaga jarak yang lebih jauh dengan orang Indonesia ketika berbicara. Mereka sering menganggap orang Indonesia yang berbicara dengan jarak dekat dinilai agresif, padahal orang Indonesia bermaksud menunjukkan keakraban.
Berbicara tentang komunikasi pasti identik dengan sebuah persepsi. Persepsi merupakan inti dari komunikasi. Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal (Rakhmat 2005: 25 ). Persepsi meliputi pengindraan melalui alat-alat indra kita, atensi, dan interprestasi ( Mulyana 2007: 181 ). Umumnya orang bertindak sebagai hasil mereka mempersepsi dunia dan dari pengalaman budaya mereka. Saya beri contoh mengenai persepsi, mungkin ada sebagian orang yang sudah mengetahui contoh persepsi yang saya berikan dibawah ini:
Dalam komunikasi antar manusia tak dipungkiri lebih banyak menggunakan bahasa non verbal daripada bahasa verbal, karena bahasa non verb dinilai lebih jauh mewakili perasaan dan makna yang terkandung dalam setiap pesan seorang komunikan. Cara mengusap hidung, memuntir rambut, melambaikan tangan, senyum, menyilangkan kaki mengungkapkan banyak hal tentang Anda. Perasaan seseorang juga dinyatakan dengan berbagai isyarat non verbal. Menurut Larry A.Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan, kecuali rangsangan verbal di dalam suatu setting komunikasi yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu yang memiliki nilai pesan potensial bagi komunikan dan komunikator ( Mulyana 2007:343 ). Akan tetapi, kebanyakan bahasa isyarat non verb juga tidak universal tetapi tergantung bawaan. Seperti yang sudah saya jabarkan diatas komunikasi merupakan bagian dari budaya dan budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Menurut Larry A Samovar dan Richard E. porter ( Mulyana 2007: 352 ) dikatakan bahwa ada dua cara dalam mengklasifikasikan pesan non verbal ,yakni:
· Pertama, perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau-bauan dan parabahasa
· Kedua, ruang, waktu dan diam.
Berdasarkan dengan pengklasifikasian menurut Larry dan Richard, saya akan membagikan pengamatan dan menganalisis perilaku komunikasi non verbal yang terjadi di antara para mahasiswa Fisip Universitas Atma Jaya Yogyakarta prodi komunikasi. Berdasarkan dua kategori tersebut yang paling mewakili adalah kategori pertama, sebagai berikut:
a) Perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian,
Dari cara berpakaian dan penampilan dapat diketahui pesan non verbal seperti apakah yang disampaikan para mahasiwa UAJY ini. Berdasarkan hasil pengamatan cara berpakaian dan berpenampilan mereka jelas terlihat berbeda-beda. Di kampus Fisip UAJY terbagi menjadi empat konsentrasi studi yakni PR, Advertising ,Jurnalistik,dan Kajian Media. Keempat konsentrasi studi ini dapat dibedakan dari cara berpakaian, misalnya mahasiswa yang mengambil konsentrasi studi PR cenderung berpakaian lebih rapi dari mahasiswa lain dan fashionable baik laki-laki dan perempuan, itu karena pekerjaan mereka kelak akan selalu dituntut rapi, untuk mahasiswa Advertising sedikit berantakan dalam berpakaian dan terlihat “nyeni” (baca: dari kata seniman) dan penampilan pun “nyeleneh” wah..kalau ini mungkin ada asumsi bahwa anak Advertising itu kreatif-kreatif J, mahasiswa Jurnal pun hampir sama berantakannya dengan mahasiswa Advertising hanya yang membedakan penampilan mereka lebih cuek ketimbang mahasiswa Advertising, sedangkan mahasiswa Kajian Media cara berpakaian mereka terlihat rapi meskipun tidak terlalu fashionable dan penampilan terlihat lebih serius.
b) Gerakan dan postur tubuh
Seperti yang kita ketahui jenis bahasa non verbal seperti ini paling banyak digunakan orang bahkan tanpa disadari sekalipun. Gerakan da postur tubuh ini juga yang merupakan bahasa bawaan, artinya tergantung budaya asalnya. Seluruh mahasiswa UAJY khususnya prodi komunikasi kerap memakai bahasa gerakan tubuh yaitu mengangguk ketika setuju atau dipanggil seseorang, menggeleng jika tidak setuju, membuat huruf V ditangan jika berkata benar ,menggunakan jari telunjuk jika menunjukkan sesuatu benda atau menunjuk teman. Para wanita lebih terbatas dalam mengubah postur tubuh karena para wanita cenderung lebih menjaga lengannya lebih dekat dengan tubuh mereka, menyibakkan rambut, dan merapikan pakaian. Mereka kerap memakai bahasa non verbal seperti itu karena lingkungan sudah terbiasa dan bisa mengartikan sendiri apa makna yang disampaikan.
c). Ekpresi wajah
Bahasa non verbal yang satu ini juga kerap digunakan, Para mahasiswa FISIP UAJY selalu tersenyum jika bertemu dengan temn atau dosen, salah satu teman saya berkata jika ia tersenyum dengan orang yang ia jumpai maka itu mengisyaratkan jika ia perhatian dan ramah.
d). Kontak mata
Kontak mata memiliki dua fungsi dalam KAP yakni Pertama,fungsi pengatur,untuk memberi tahu orang lain apakah Anda akan melakukan hubungan dengan orang itu tau menghindar, Kedua, fungsi ekspresif member tahu orang lain bagaimana perasaan Anda terhadapnya ( Mulyana 2007: 373 ).Para mahasiswa FISIP UAJY selalu kontak mata jika mereka sedang berbicara. Hal ini dikarnakan agar memberi makna penghartian dengan lawan bicaranya.
e). Sentuhan
Sentuhan mungkin jauh lebih bermakna daripada verbal, sentuhan tergantung dengan konteks dan budaya masing-masing. Para mahasiswa FISIP UAJY kerap menggunakan sentuhan persahabatan yakni merangkul, dan berjabat tangan. Sentuhan ini menberikan makna hubungan yang akrab. Perilaku lain, para mahasiswa yang memiliki janggut, mereka sering mengelus janggutnya ketika memperhatikan pelajaran di kelas atau ujian.
f). Parabahasa
Parabahasa menurut Deddy Mulyana (Mulyana 2007:387) merujuk pada aspek-aspek suara selain ucapan yang dapat dipahami. Menurut Ferris (Mulyana 2007:387) parabahasa terpenting kedua setelah ekspresi wajah. Banyak mahasiswa pendatang dari berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di UAJY, sehingga banyak budaya-budaya asal yang terkadang terbawa di kampus. Seperti mahasiswa yang berasal dari Timur atau Utara Pulau Sumatra cenderung berbicara keras dan mengotot, padahal mereka berbicara keras tersebut belum tentu mereka sedang marah, padahal ini hanya masalah penafsiran atau stereotype saja. Para mahasiswa dan mahasiwi yang berasal dari daerah Jogja dan sekitarnya kerap menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan mereka, dengan alasan agar mereka terlihat lebih akrab. Begitu juga dengan para mahasiswa yang berasal dari luar daerah dan bertemu dengan saudara sedaerahnya mereka juga berbicara menakai bahasa daerahnya.
Demikianlah hasil pengamatan dan analisa saya tentang bebagai macam perilaku komunikasi non verbal yang digunakan para mahasiswa FISIP UAJY prodi komunikasi.
Referensi:
Mulyana,Deddy Prof. M.A.,Ph.D (2007). Ilmu Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Rakhmat ,J Drs.M.,Sc (2005). Komunikasi Antar Budaya .Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
Gambar:
http://www.emotasia.com/cutest-panda-emoticons/
http://juandry.blogspot.com/2010/02/mari-kita-semua-tersenyum.html
http://lucudanunik.blogspot.com/2010_02_01_archive.html
http://yulendra.wordpress.com/2010/07/08/persepsi-emosi-intelegensidanmemori


Tidak ada komentar:
Posting Komentar